Rabu, 30 Oktober 2013

30 Oktober 2013~



hey reader :D
sebelum kalian membaca ini dan salah paham -_-
Saya tekankan
Jika ada kesamaan nama, tempat dan suasana.
Itu sengaja
terimakasih~






Aku, telah jatuh cinta berkali-kali pada waktu yang lama kepada orang yang sama

Selama apapun itu, perasaanku padanya tetap tak Ia ketahui, atau tak Ia mengerti?. Awal matrikulasi, secara kebetulan aku mengenalnya karena kami segugus. “Pangeran Diponegoro” di sanalah perasaan ini masuk secara diam-diam dan tumbuh tanpa pernah ku sadari. Aku, jatuh cinta kepadanya, entah karena apa. Aku akan diam-diam tersenyum saat Ia tersenyum, mencuri pandang saat ia melintas, berfikir keras untuk sebuah percakapan yang tak pernah bisa terucap. Ia pendiam, sangat pendiam. Pembawaannya yang tenang membuatku seakan berada di “rumah”. Kami nyaris tak pernah saling berbicara. Sudah kukatakan bukan? Ia adalah sosok yang pendiam. Dua kacamata yang selalu Ia kenakan memberi kesan bahwa Ia jenius. Behel yang menghiasi rentetan giginya memperindah senyumnya. Saat itu, Ia bahkan hampir tak pernah tersenyum. Ia bukan orang yang mudah mendapatkan teman baru. Ia hanya sering ‘ikut-ikut’ pada teman kelasnya saja.
Ketika pembagian kelas, harapan itu kembali menyentilku. Berharap agar bisa sekelas dengannya, agar tetap bisa dengan terus-menerus melihatnya selama setahun, 6 hari dalam seminggu. Pasti kelas akan sangat menyenangkan. Walau akhirnya, semua harapan itu pergi dengan wajah lesu. Aku, X B.J. habibie. Kau, X Phytagoras. Kelas kita bertetangga, tapi bukan berarti kita bisa sering bertemu, aku khawatir. Bagaimana jika kau berubah? Atau menjadi sosok yang tak kuinginkan? Bagaimana jika semua itu terjadi, perasaan ini memilih untuk pergi? Hari berganti menjadi hari, minggu, bulan... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati. Aku, tak lagi mencari tahu tentang dirimu, tak lagi berharap cemas saat kau tak melintas, aku.. tak lagi sama. Aku berpindah pada hati yang lain. Kepada hati yang telah mengetahuiku, yang membuatku bisa tertawa lebar bersamanya, yang membuatku merasa terlindungi karenanya. Hingga malam promnite tiba Aku dan Dia memutuskan untuk menjadi couple, aku bahagia waktu itu. Tentu saja!. Sekian banyak orang yang mengaguminya, dan hanya aku yang bisa menjadi couplenya dan aku bahagia. Hingga kau lewat melintas dan menoleh ke arah kami... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. ternyata Ia hanya mengendap dan mulai terlupakan hingga malam itu, kau membuat endapan itiu terbagun dan keluar dari persembunyiannya..

Sekali lagi.. Aku Jatuh Cinta padamu..

Pembagian kelas XI (11) Harapan itu kini mencubitku, membuatku tersadar bahwa aku –masih saja- ingin duduk di bangku yang berada di kelas yang sama dengamu. Kau tahu? Aku bahkan berdo’a pada Tuhan agar kita bisa sekelas, kuharap ia akan meniupkan keajaiban kecil kepada “kita’’ . Harapan itu sekali lagi pergi dengan wajah sedih. Kau XI. Gregor Mendel . Aku, XI. Blaise Pascal. Kelasku yang berada di ujung dan terletak begitu sangat jauh dari kelasmu membuatku kembali berfikir bahwa rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi... saat itu, aku tersesat di hati yang persis dengan hatimu, walau Ia sedikit lebih hangat dari hatimu. Kami, terkadang SMS-an membahas tentang soal-soal BIOLOGI- karena dia sangat ahli dalam bidang itu- yang sulit menurutku. Aku jatuh Cinta pada Dia yang sekelas denganmu, XI. Gregor Mendel.
Bukan jarak yang membuat perasaan ini telah pergi atau bahkan mati..
Hari itu, aku berniat untuk membatu sahabatku yang juga sekelas denganmu, membantunya mengangkat kursi dari kelas lamanya kekelas yang sekarang Ia huni. Aku kembali melihatmu... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi.. Tapi, saat aku melihat punggungmu dari belakang. Perasaan itu kembali terpupuk... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. Tapi, ia malah datang lagi..

Aku untuk kesekian kalinya kembali Jatuh Cinta padamu dalam diam..

Kau kini berada di kelas XI. ADAM SMITH Kau memutuskan untuk pindah program dari exact ke social. Entah apa alasanmu. Kini, kelas kita kembali bertetangga. Ada beberapa kali saat kita melintas bersama di lorong sekolah, tetap tak bertegur sapa. Kita berjalan dikoridor yang sama, meski tidak bersisisan, terkadang aku dibelakangmu memandangmu sambil mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan denganmu, terkadang kau yang di bleakang.. entak sedang berfikiran apa.. saat keberanianku mulai terkumpul, koridor telah mencapai ujung. Kau berbelok kiri –keparkiran- aku berbelok kana ke Asrama.
Saat aku menulis ini

Aku semakin yakin bahwa inilah yang namanya Cinta..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar