hey reader :D
sebelum kalian membaca ini dan salah paham -_-
Saya tekankan
Jika ada kesamaan nama, tempat dan suasana.
Itu sengaja
terimakasih~
Aku, telah jatuh cinta berkali-kali pada waktu yang lama kepada orang
yang sama
Selama apapun itu, perasaanku
padanya tetap tak Ia ketahui, atau tak Ia mengerti?. Awal matrikulasi, secara
kebetulan aku mengenalnya karena kami segugus. “Pangeran Diponegoro” di sanalah
perasaan ini masuk secara diam-diam dan tumbuh tanpa pernah ku sadari. Aku,
jatuh cinta kepadanya, entah karena apa. Aku akan diam-diam tersenyum saat Ia
tersenyum, mencuri pandang saat ia melintas, berfikir keras untuk sebuah
percakapan yang tak pernah bisa terucap. Ia pendiam, sangat pendiam.
Pembawaannya yang tenang membuatku seakan berada di “rumah”. Kami nyaris tak
pernah saling berbicara. Sudah kukatakan bukan? Ia adalah sosok yang pendiam.
Dua kacamata yang selalu Ia kenakan memberi kesan bahwa Ia jenius. Behel yang
menghiasi rentetan giginya memperindah senyumnya. Saat itu, Ia bahkan hampir
tak pernah tersenyum. Ia bukan orang yang mudah mendapatkan teman baru. Ia
hanya sering ‘ikut-ikut’ pada teman kelasnya saja.
Ketika pembagian kelas, harapan
itu kembali menyentilku. Berharap agar bisa sekelas dengannya, agar tetap bisa
dengan terus-menerus melihatnya selama setahun, 6 hari dalam seminggu. Pasti
kelas akan sangat menyenangkan. Walau akhirnya, semua harapan itu pergi dengan
wajah lesu. Aku, X B.J. habibie. Kau, X Phytagoras. Kelas kita bertetangga,
tapi bukan berarti kita bisa sering bertemu, aku khawatir. Bagaimana jika kau
berubah? Atau menjadi sosok yang tak kuinginkan? Bagaimana jika semua itu
terjadi, perasaan ini memilih untuk pergi? Hari berganti menjadi hari, minggu,
bulan... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati. Aku, tak lagi mencari
tahu tentang dirimu, tak lagi berharap cemas saat kau tak melintas, aku.. tak
lagi sama. Aku berpindah pada hati yang lain. Kepada hati yang telah
mengetahuiku, yang membuatku bisa tertawa lebar bersamanya, yang membuatku
merasa terlindungi karenanya. Hingga malam promnite tiba Aku dan Dia memutuskan
untuk menjadi couple, aku bahagia waktu itu. Tentu saja!. Sekian banyak orang
yang mengaguminya, dan hanya aku yang bisa menjadi couplenya dan aku bahagia.
Hingga kau lewat melintas dan menoleh ke arah kami... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. ternyata Ia
hanya mengendap dan mulai terlupakan hingga malam itu, kau membuat endapan itiu terbagun dan keluar dari
persembunyiannya..
Sekali lagi.. Aku Jatuh Cinta padamu..
Pembagian kelas XI (11) Harapan
itu kini mencubitku, membuatku tersadar bahwa aku –masih saja- ingin duduk di
bangku yang berada di kelas yang sama dengamu. Kau tahu? Aku bahkan berdo’a
pada Tuhan agar kita bisa sekelas, kuharap ia akan meniupkan keajaiban kecil
kepada “kita’’ . Harapan itu sekali lagi pergi dengan wajah sedih.
Kau XI. Gregor Mendel . Aku, XI. Blaise Pascal. Kelasku yang berada di ujung
dan terletak begitu sangat jauh dari kelasmu membuatku kembali berfikir bahwa
rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi...
saat itu, aku tersesat di hati yang persis dengan hatimu, walau Ia sedikit
lebih hangat dari hatimu. Kami, terkadang SMS-an membahas tentang soal-soal
BIOLOGI- karena dia sangat ahli dalam bidang itu- yang sulit menurutku. Aku
jatuh Cinta pada Dia yang sekelas
denganmu, XI. Gregor Mendel.
Bukan jarak yang membuat perasaan ini telah pergi atau bahkan mati..
Hari itu, aku berniat untuk
membatu sahabatku yang juga sekelas
denganmu, membantunya mengangkat kursi dari kelas lamanya kekelas yang sekarang
Ia huni. Aku kembali melihatmu...
kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi.. Tapi, saat aku melihat punggungmu dari belakang. Perasaan
itu kembali terpupuk... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. Tapi, ia malah datang lagi..
Aku untuk kesekian kalinya kembali Jatuh Cinta padamu dalam diam..
Kau kini berada di kelas XI. ADAM
SMITH Kau memutuskan untuk pindah program dari exact ke social. Entah apa
alasanmu. Kini, kelas kita kembali bertetangga. Ada beberapa kali saat kita
melintas bersama di lorong sekolah, tetap tak bertegur sapa. Kita berjalan
dikoridor yang sama, meski tidak bersisisan, terkadang aku dibelakangmu
memandangmu sambil mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan denganmu,
terkadang kau yang di bleakang.. entak sedang berfikiran apa.. saat
keberanianku mulai terkumpul, koridor telah mencapai ujung. Kau berbelok kiri
–keparkiran- aku berbelok kana ke Asrama.
Saat aku menulis ini
Aku semakin yakin bahwa inilah yang namanya Cinta..