Jumat, 23 April 2021

 Halo, lagi

Saya tidak tau jika di tempat ini ada seseorang yang membaca setiap 'halo' yang saya berikan

Update kehidupan saya,

Langit masih sama, bulan masih sama, dan sayangnya matahari masih terbit dari tempat yang sama.

Sudah 1.490 hari Ayah pergi. Perusahaannya bankrupt pada awal 2020. Tak apa, rezki Allah kan seluas langit dan sedalam lautan. Meski tetap tidak ada yang tau seluas dan sedalam apa itu jika disebutkan dalam bahasa manusia.

Was-was dalam mencari pekerjaan tidak pernah saya rasakan sebelumnya, sampai saya lulus dan menjadi pengangguran. Sekarang sudah 4 bulan, sejak saya wisuda. Hari yang saya nantikan bahkan sejak saya SD tapi ternyata sama sekali tidak terasa spesial, mungkin karena tidak pakai telur.

Siapa sangka anak paling periang sekomplek bisa menjadi perempuan paling palsu sedunia. Saya tidak lagi benar-benar tersenyum, atau tertawa. Saya menganggap itu lucu tapi tetap saja tidak tertawa.

Saya 23 tahun, akan 24 tahun ini. Bagaimana mungkin perasaan saya masih tidak berpindah di hari saya kehilangan Ayah 4 tahun lalu? 

"Kita tidak pernah benar-benar pulih dari kehilangan, kita hanya terbiasa akan sakit di dada"

Saya meracau, mencoba mengeluarkan isi kepala saya. Sekali lagi, apa yang terjadi pada perempuan yang bisa mengekspresikan perasaannya? Matikah dia terkubur bersama jasad Ayahnya?

Tulang belakang saya sakit, bukan berarti saya ingin mencari tulang punggung. Kuku saya patah, sehingga saya harus memotong semuanya.

'Hidup yang singkat ini terlalu panjang'

Kata kutipan yang saya baca.

Rabu, 05 Juni 2019

Lebaran D+1 , 02:01 WITA

Hari ini adalah hari kedua lebaran idul fitri 1440 H. Setelah menjadi sulit untuk tidur, saya memutuskan untuk membuat sedikit tulisan mengenai hal-hal yang sering berputar di kepala saya dan mengganggu hati atau jantung(?) saya.

Selamat malam dan selamat datang kembali
Untuk diri saya sendiri dan untuk kalian yang mungkin kebetulan membaca postingan ini.


Saya tidak suka basa basi apalagi sampai benar-benar menjadi basi. Karena bau, dan harus dibuang.jadi langsung saja.

 Beberapa hari terakhir banyak yang terjadi, seperti jantung saya yang kembali mulai sering sakit, atau pikiran saya yang kembali sering menjelajah meninggalkan raga saya yang terjebak di dimensi ruang dan waktu bernilai 'nol'.


Hidup terus berjalan. Tapi, kita sering kelelahan. Maka dari itu, untuk setiap langkah yang saya sendiri ambil, saya sarankan untuk diri saya sendiri (hahah) untuk mengambil napas dan meluangkan waktu untuk tersenyum kemudian bersyukur. 



Bukan agar cepat sampai, tapi agar bahagia ketika sampai.



Kemudian, untuk 'Ayah' yang beberapa kali muncul pada tulisan saya di blog yang satunya haha. Sudah 803 hari ia tinggal di rumahnya yang kekal. Do'a kan Ayah agar dia mendapat tempat terbaik dan paling baik ya!


Manusia datang untuk pergi dan pergi untuk kembali bukan? Tapi beberapa manusia ditakdirkan pergi tapi tak punya alasan atau bahkan kesempatan untuk kembali.

Hari berganti bulan dan bulan masih saja memantulkan cahaya matahari.

Kau boleh tertawa, tapi tidak boleh berlebaihan
Kau boleh bahagia, tapi jangan berlebihan
Kau boleh sedih, tapi jangan keseringan.

Saya menyibukkan diri dengan dunia gambar yang bergerak. Tak lagi memuja tulisan berlatar kertas buram. Bukan saya yang berubah, hanya saja. Dunia, seperti ingin mengajak saya untuk sibuk menonton hidup orang lain, sampai lupa bahwa hidup sendiri sedang perlu ditata atau bahkan diperbaiki.

Kemudian, sejak Ayah pulang. Setiap hari adalah sangat melelahkan bagi saya. Selalu ada hari ketika orang menegur karena ekspresi saya yang sedih atau wajah saya yang datar. Saya memang bersedih, setiap detik selama 803 hari. Hanya saja, selalu ada hari dimana saya tidak memiliki cukup tenaga untuk berpura-pura atau sekedar mengatakan saya baikbaik saja. Kita semua terluka, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Ketika berada di atas motor. Di bawah langit gowa yang selalu cari masalah. Saya berlatih untuk tersenyum. Kemudian tertawa sendiri. Pada bibir, bukan pada hati. 
Jalan raya adalah tempat favorit saya, sebelum kasur pada posisi kedua.
Keduanya bisa membuat saya menumpahkan air mata, atau sekedar membantu saya mengingat hari ketika bibir dan hati berbanding lurus.

"Kau terdengar terlalu sedih"
Terimakasih, bukan karena mengetahui. Tapi, untuk memperhatikan dan membuat saya terlihat sangat memprihatinkan.

Kemudian langit akhir-akhir ini terlihat kurang menarik, entah karena kau datang atau karena kau juga langsung pergi.

Ah, sudah terlalu panjang. Sebaiknya jangan habiskan waktumu membaca hal semacam ini. Bacalah Al-qur'an mu. Ia rindu.

Minggu, 29 Maret 2015

26 maret 2015

                Hidupku berjalan sempurna sebelum kau memasukinya. Seakan berjalan di trotoar baru yang mulus tapi berliku. Kau ubah semuanya menjadi seperti menaiki roller coaster mematikan. My life just turn Upside Down. Abu-abu, hitam, putih. Ahh.. warna itu dulu adalah diriku. Tapi, kau memberi hijau,merah, biru, bahkan mencampur berbagai warna hingga aku sendiri tak tahu warna apa yang akan tercipta. Kau buat hidupku seakan dipenuhi teka-teki. Tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Tak ada ide tentang apa yang akan kau lakukan selanjutnya.
                Mencintaimu seperti melihat bintang di angkasa. Bercahaya tapi tak pernah menyilaukan. Jauh tapi entah mengapa selalu terasa dekat. Bintang.. yang berhak ditatap oleh semua mata. Tapi, hanya boleh dimiliki oleh satu hati. Aku.
                Melihatmu seakan melihat takdir yang sedang berlalu.. pergi tapi datang lagi. Tak ada yang tahu isi hatimu. Tidak aku, tidak mereka, bahkan tidak dirimu sendirimu. Cinta itu memabukkan? Haha.. aku lebih memilih kata ketergantugan. Seperti zat adiktif yang lebih hebat dari narkoba.
Satu nama yang selalu ingin ku sebut dalam sebuah sapaan kepada pemiliknya. Bukan nama yang selalu kusebut dalam cerita penuh hayal kepada teman-temanku. H... dalam sebuah sapaan singkat yang membuatmu menengok lalu tersenyum padaku. Mendengarmu sekaaaaali saja menyebut namaku, dengan sebuah lambaian tangan mengiringinya.
Cinta itu buta. Tapi lucunya membuatku melihat hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya. Membuatku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Berusaha meluangkan waktu untuk melintasi rumahmu di setiap minggu pagi dengan modus jogging. Kau mengubahku menjadi morning person.
Jika waktu bisa kuputar kembali, aku takkan pernah sekalipun berpaling. Mencari sosok lain yang kukira bisa menghilangkanmu bahkan walau sedetik dari otakku. Entah berapa kali aku berpikir bisa melewati hari tanpa ada perasaan padamu. Berusaha mencari yang terbaik agar bisa melupakanmu. Tapi, yang terbaik bukanlah yang terbaik selama dia bukan dirimu. Selama kalian adalah sosok yang berbeda. 
Aku mencoba tidak menyakiti siapa-siapa selama rasa padamu masih membuncah tanpa bisa kukendalikan. Kututup semua pintu yang memungkinkan orang lain masuk ‘lagi’. Meninggalkan beberapa orang yang tak bisa kupungkiri sangat kucintai. Kubiarkan mereka terluka sekarang daripada berdarah dikemudian hari. Fikir aku tidak terluka? Lukaku sudah terlalu menganga, terlalu menganga hingga tidak terasa lagi.
Mereka yang kutinggal kembali mencari tempat baru. Bahagia dengan tempat baru yang lebih bisa membuat mereka menjadi prioritas. Aku? Menunggumu menyapa saja seperti menunggu METALICA merilis album religi. Aku memang kurang sabar.
Aku kurang sabar sehingga menunggumu nyaris selama 3 tahun. Aku kurang sabar hingga terkadang hanya bisa menghapus air mata saat kau tidak mengacuhkan. Aku kurang sabar setiap hari selama kelas 2 menunggumu lewat depan kelasku agar kita bisa berjalan di koridor dalam waktu yang sama meski tidak beriringan. Aku kurang sabar...
Aku juga tau kau sudah tau semuanya. Seorang teman sudah memberitahuku bahwa kau tau aku menyukaimu. Tapi? Menolak saja kau tidak. Apalagi mengiyakan. Sebut saja aku perempuan murahan yang selalu ingin mengenalmu. Selalu ingin bertahan padamu yang sama sekali tak mungkin memikirkanku walau sedetik. Jika aku menyukaimu dengan blak-blakan tolak aku dengan blak-blakan. Lebih baik seperti itu daripada aku harus membumbungkan hayal terlalu tinggi hingga melintasi galaksi.
Aku berubah karenamu. Mulai sering memandang diri di cermin dan bertanya. Apa yang salah? Apa yang kurang? Hal yang dulu hanya kulakukan hanya jika ingin memasang jilbab. Merias diri sebelum ke sekolah. Sibuk mempercantik diri di pagi hari dan mulai bermimpi kau akan tersenyum padaku pada malam hari. Kau ubah aku dan hariku.
Terkadang aku hanya tersenyum dan menunduk saat rasa sakit yang kurasa sudah mencapai ubun-ubun. Kau tak pernah ragu untuk mengacuhkanku. Aku tak pernah ragu untuk memperjuangkanmu.
Aku hanyalah seorang gadis yang berlindung di belakang kalimat ‘emansipasi wanita’ agar aku dengan leluasa bisa menyukaimu, dan memulai semuanya denganmu. Terdengar murahan memang tapi, cinta membuatku seperti ini. Aku yang selalu menolak siapa saja kini belutut di hadapanmu untuk mengemis rindu. Berikan aku sepotong saja. Berikan aku sisa yang mungkin pernah kau berikan ke orang lain. Aku tak apa. Ya.. aku mungkin tak apa. Anggap aku baik-baik saja.
Aku pernah mengenal banyak orang. Aku pernah meninggalkan banyak orang. Aku pernah ditinggalkan banyak orang. Jadi, jika kau ingin memperjelas TIDAK maka buat aku mendenganya sendiri. Agar aku bisa berhenti menyakiti diri sendiri. Agar aku bisa berhenti menyakiti mereka. Agar aku bisa berhenti mengganggu harimu.


Kamis, 14 November 2013

friendzone~

Aku masih belum bisa mengartikan tentang perasaan aneh ini..
Aku tetap tidak mengerti
Setiap detakan jantungku
Terasa begitu sangat cepat ketika kau berada disekelilingku..
Aku masih belum bisa menjelaskan
Mengapa seuntai senyummu
Terasa begitu menyejukkan disetiap mimpiku?
Mereka bilang ini ‘’Cinta”
Aku tak peduli
Cinta yang akan membuat kita tak terpisahkan
Takkan kubiarkan cinta menjauhkan kita..
Aku tau
Tak seharusnya ku biarkan perasaan ini tumbuh dan membesar diantarkita
Tak seharusnya perasaan ini selalu kupupuk dengan harapan-harapan
Hingga Ia tumbuh melampui batas.Terlalu besar.
Hingga tak mungkin bisa kupangkas
Aku tak bisa...
Hanya menjadi sekedar teman bagimu
Jujur, Aku selalu ingin lebih dari sekedar teman dimatamu.
Meski aku tak yakin akan hal itu
Kucoba tersenyum saat mendengar kau bercerita tentang ‘dia’
Mataku tetap terlihat tulus mendengar
Tersenyum saat kau tertawa
Meski kutau cintaku-padamu-tak mungkin terbalas
Kita berteman
Haruskah kurusak semua yang kita bangun hanya karena ego?
Ego untuk memilikimu
Ego untuk menjadi orang yang selalu kau fikirkan
Tanpa ada dia disela-selanya
Sudah selama ini kita bersama
Meski jarak semu diantara kita tak terhitung jauhnya
Tak terkira jaraknya
Tak terlihat wujudnya..
“Aku Sayang Kamu”
Andai aku bisa mengatakan hal itu dihadapanmu
Dengan kau yang membalas dengan anggukan
Aku..
Hanya bisa mengagumi kesempurnaanmu dari jauh
Menatap keindahanmu dalam diam
Kau..
Tetap menjadi teman yang selalu ada disetiap ceritaku
Tetap menjadi seseorang yang hadir dalam setiap mimpi indahku..
Aku tahu
Yang aku lakukan ini sangat salah
Tapi, dalam hal CINTA logika tak bisa berbuat apa-apa
Biarkan aku tetap menunggumu
Menunggu dalam diam
Tanpa membuatmu terusik
Aku akan tetap bertahan seperti ini
Bertahan menahan perasaan ingin menjadi orang yang spesial untukmu
Aku selalu ada untukmu..
Karena kau selalu lebih dari sekedar teman bagiku..

Rabu, 30 Oktober 2013

30 Oktober 2013~



hey reader :D
sebelum kalian membaca ini dan salah paham -_-
Saya tekankan
Jika ada kesamaan nama, tempat dan suasana.
Itu sengaja
terimakasih~






Aku, telah jatuh cinta berkali-kali pada waktu yang lama kepada orang yang sama

Selama apapun itu, perasaanku padanya tetap tak Ia ketahui, atau tak Ia mengerti?. Awal matrikulasi, secara kebetulan aku mengenalnya karena kami segugus. “Pangeran Diponegoro” di sanalah perasaan ini masuk secara diam-diam dan tumbuh tanpa pernah ku sadari. Aku, jatuh cinta kepadanya, entah karena apa. Aku akan diam-diam tersenyum saat Ia tersenyum, mencuri pandang saat ia melintas, berfikir keras untuk sebuah percakapan yang tak pernah bisa terucap. Ia pendiam, sangat pendiam. Pembawaannya yang tenang membuatku seakan berada di “rumah”. Kami nyaris tak pernah saling berbicara. Sudah kukatakan bukan? Ia adalah sosok yang pendiam. Dua kacamata yang selalu Ia kenakan memberi kesan bahwa Ia jenius. Behel yang menghiasi rentetan giginya memperindah senyumnya. Saat itu, Ia bahkan hampir tak pernah tersenyum. Ia bukan orang yang mudah mendapatkan teman baru. Ia hanya sering ‘ikut-ikut’ pada teman kelasnya saja.
Ketika pembagian kelas, harapan itu kembali menyentilku. Berharap agar bisa sekelas dengannya, agar tetap bisa dengan terus-menerus melihatnya selama setahun, 6 hari dalam seminggu. Pasti kelas akan sangat menyenangkan. Walau akhirnya, semua harapan itu pergi dengan wajah lesu. Aku, X B.J. habibie. Kau, X Phytagoras. Kelas kita bertetangga, tapi bukan berarti kita bisa sering bertemu, aku khawatir. Bagaimana jika kau berubah? Atau menjadi sosok yang tak kuinginkan? Bagaimana jika semua itu terjadi, perasaan ini memilih untuk pergi? Hari berganti menjadi hari, minggu, bulan... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati. Aku, tak lagi mencari tahu tentang dirimu, tak lagi berharap cemas saat kau tak melintas, aku.. tak lagi sama. Aku berpindah pada hati yang lain. Kepada hati yang telah mengetahuiku, yang membuatku bisa tertawa lebar bersamanya, yang membuatku merasa terlindungi karenanya. Hingga malam promnite tiba Aku dan Dia memutuskan untuk menjadi couple, aku bahagia waktu itu. Tentu saja!. Sekian banyak orang yang mengaguminya, dan hanya aku yang bisa menjadi couplenya dan aku bahagia. Hingga kau lewat melintas dan menoleh ke arah kami... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. ternyata Ia hanya mengendap dan mulai terlupakan hingga malam itu, kau membuat endapan itiu terbagun dan keluar dari persembunyiannya..

Sekali lagi.. Aku Jatuh Cinta padamu..

Pembagian kelas XI (11) Harapan itu kini mencubitku, membuatku tersadar bahwa aku –masih saja- ingin duduk di bangku yang berada di kelas yang sama dengamu. Kau tahu? Aku bahkan berdo’a pada Tuhan agar kita bisa sekelas, kuharap ia akan meniupkan keajaiban kecil kepada “kita’’ . Harapan itu sekali lagi pergi dengan wajah sedih. Kau XI. Gregor Mendel . Aku, XI. Blaise Pascal. Kelasku yang berada di ujung dan terletak begitu sangat jauh dari kelasmu membuatku kembali berfikir bahwa rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi... saat itu, aku tersesat di hati yang persis dengan hatimu, walau Ia sedikit lebih hangat dari hatimu. Kami, terkadang SMS-an membahas tentang soal-soal BIOLOGI- karena dia sangat ahli dalam bidang itu- yang sulit menurutku. Aku jatuh Cinta pada Dia yang sekelas denganmu, XI. Gregor Mendel.
Bukan jarak yang membuat perasaan ini telah pergi atau bahkan mati..
Hari itu, aku berniat untuk membatu sahabatku yang juga sekelas denganmu, membantunya mengangkat kursi dari kelas lamanya kekelas yang sekarang Ia huni. Aku kembali melihatmu... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati lagi.. Tapi, saat aku melihat punggungmu dari belakang. Perasaan itu kembali terpupuk... kufikir rasa ini telah pergi atau bahkan mati.. Tapi, ia malah datang lagi..

Aku untuk kesekian kalinya kembali Jatuh Cinta padamu dalam diam..

Kau kini berada di kelas XI. ADAM SMITH Kau memutuskan untuk pindah program dari exact ke social. Entah apa alasanmu. Kini, kelas kita kembali bertetangga. Ada beberapa kali saat kita melintas bersama di lorong sekolah, tetap tak bertegur sapa. Kita berjalan dikoridor yang sama, meski tidak bersisisan, terkadang aku dibelakangmu memandangmu sambil mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan denganmu, terkadang kau yang di bleakang.. entak sedang berfikiran apa.. saat keberanianku mulai terkumpul, koridor telah mencapai ujung. Kau berbelok kiri –keparkiran- aku berbelok kana ke Asrama.
Saat aku menulis ini

Aku semakin yakin bahwa inilah yang namanya Cinta..


Jumat, 04 Oktober 2013

03 oktober 2013 pkl 11:37 WITA



Hei kamu yang selama ini menjadi inti bumiku :) Akhir-akhir ini, entahlah aku merasa jauh darimu. Jarak antara kita bukan berkilomenter bukan bermil-mil. Jarak ini, tentang perasaan. Aku ke kamu dan kamu? Padanya :). Perasaan ini tidak bisa kuuraikan menjadi kata-kata. Sakit? Marah? Kecewa? Haha.. Tidak! Kata itu terlalu sangat sederhana. Aku benci menjadi orang yang hanya bisa membuatmu bahagia ‘melalui’ dia. Dia = kebehagiaanmu. Kamu = Kebahagianku. Mungkin ini egois mengingat dia tidak ‘terlalu untung’ menjadi orang yang kau sukai. Dia juga memiliki hati yang lain, kepada orang yang lain. Aku tak ingin melihat kau berakhir sepertiku, jadi? Salahkah jika aku lebih mementingkan perasaanmu diatas segalanya? Mereka untuk berkali-kali mengatakan bahwa aku bodoh. Mengatakan bahwa kau hanya menyakiti hatiku sendiri. Cinta yang besar tidak dilihat dari seberapa lama ia menunggu. Tapi, sebesarapa besar ia berkorban :) Tak bisa kukatan bahwa perasaan ini CINTA. Aku belum pernah merasakannya. Hanya mendapat deksripsinya dari novel-novel yang kubaca. Perasaan disaat jantungmu bertek sangat kencang saat ia lewat, Perasaan tak berdaya melihatnya dengan yang lain. Aku belum merasakannya padamu. Aku belum pernah jatuh cinta. Hanya cinta kepada Orang tuaku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku, dan teman-temanku. Aku belum pernha merasakan yang orang-orang rasakan. Aku menangis tersedu karenamu. Apakah itu sudah cukup untuk dibilang CINTA? Aku pernah menangis karena banyak orang. Aku sering menangis apapun alasannya. Menangis adalah pelarian terakhirku. Lalu? Beritahu aku bahwa ini CINTA. Beritahu aku bahwa ini benar-benar cinta. Aku terlalu jatuh kepadamu. Inikah cinta? Ini tidak seseru yang dideksripsikan oleh novel-novel atau cerpen-cerpen. Ini sedikit berbeda -__- aku tidak merasakan getarannya sama sekali. Apakah ini hanya diCINTA dibibir saja? Kuharap itulah jawabannya. Aku tak pernah benar-benar menyukaimu, bahkan aku tak pernah benar-benar merasakan jatuh CINTA :3