Halo, lagi
Saya tidak tau jika di tempat ini ada seseorang yang membaca setiap 'halo' yang saya berikan
Update kehidupan saya,
Langit masih sama, bulan masih sama, dan sayangnya matahari masih terbit dari tempat yang sama.
Sudah 1.490 hari Ayah pergi. Perusahaannya bankrupt pada awal 2020. Tak apa, rezki Allah kan seluas langit dan sedalam lautan. Meski tetap tidak ada yang tau seluas dan sedalam apa itu jika disebutkan dalam bahasa manusia.
Was-was dalam mencari pekerjaan tidak pernah saya rasakan sebelumnya, sampai saya lulus dan menjadi pengangguran. Sekarang sudah 4 bulan, sejak saya wisuda. Hari yang saya nantikan bahkan sejak saya SD tapi ternyata sama sekali tidak terasa spesial, mungkin karena tidak pakai telur.
Siapa sangka anak paling periang sekomplek bisa menjadi perempuan paling palsu sedunia. Saya tidak lagi benar-benar tersenyum, atau tertawa. Saya menganggap itu lucu tapi tetap saja tidak tertawa.
Saya 23 tahun, akan 24 tahun ini. Bagaimana mungkin perasaan saya masih tidak berpindah di hari saya kehilangan Ayah 4 tahun lalu?
"Kita tidak pernah benar-benar pulih dari kehilangan, kita hanya terbiasa akan sakit di dada"
Saya meracau, mencoba mengeluarkan isi kepala saya. Sekali lagi, apa yang terjadi pada perempuan yang bisa mengekspresikan perasaannya? Matikah dia terkubur bersama jasad Ayahnya?
Tulang belakang saya sakit, bukan berarti saya ingin mencari tulang punggung. Kuku saya patah, sehingga saya harus memotong semuanya.
'Hidup yang singkat ini terlalu panjang'
Kata kutipan yang saya baca.