Rabu, 05 Juni 2019

Lebaran D+1 , 02:01 WITA

Hari ini adalah hari kedua lebaran idul fitri 1440 H. Setelah menjadi sulit untuk tidur, saya memutuskan untuk membuat sedikit tulisan mengenai hal-hal yang sering berputar di kepala saya dan mengganggu hati atau jantung(?) saya.

Selamat malam dan selamat datang kembali
Untuk diri saya sendiri dan untuk kalian yang mungkin kebetulan membaca postingan ini.


Saya tidak suka basa basi apalagi sampai benar-benar menjadi basi. Karena bau, dan harus dibuang.jadi langsung saja.

 Beberapa hari terakhir banyak yang terjadi, seperti jantung saya yang kembali mulai sering sakit, atau pikiran saya yang kembali sering menjelajah meninggalkan raga saya yang terjebak di dimensi ruang dan waktu bernilai 'nol'.


Hidup terus berjalan. Tapi, kita sering kelelahan. Maka dari itu, untuk setiap langkah yang saya sendiri ambil, saya sarankan untuk diri saya sendiri (hahah) untuk mengambil napas dan meluangkan waktu untuk tersenyum kemudian bersyukur. 



Bukan agar cepat sampai, tapi agar bahagia ketika sampai.



Kemudian, untuk 'Ayah' yang beberapa kali muncul pada tulisan saya di blog yang satunya haha. Sudah 803 hari ia tinggal di rumahnya yang kekal. Do'a kan Ayah agar dia mendapat tempat terbaik dan paling baik ya!


Manusia datang untuk pergi dan pergi untuk kembali bukan? Tapi beberapa manusia ditakdirkan pergi tapi tak punya alasan atau bahkan kesempatan untuk kembali.

Hari berganti bulan dan bulan masih saja memantulkan cahaya matahari.

Kau boleh tertawa, tapi tidak boleh berlebaihan
Kau boleh bahagia, tapi jangan berlebihan
Kau boleh sedih, tapi jangan keseringan.

Saya menyibukkan diri dengan dunia gambar yang bergerak. Tak lagi memuja tulisan berlatar kertas buram. Bukan saya yang berubah, hanya saja. Dunia, seperti ingin mengajak saya untuk sibuk menonton hidup orang lain, sampai lupa bahwa hidup sendiri sedang perlu ditata atau bahkan diperbaiki.

Kemudian, sejak Ayah pulang. Setiap hari adalah sangat melelahkan bagi saya. Selalu ada hari ketika orang menegur karena ekspresi saya yang sedih atau wajah saya yang datar. Saya memang bersedih, setiap detik selama 803 hari. Hanya saja, selalu ada hari dimana saya tidak memiliki cukup tenaga untuk berpura-pura atau sekedar mengatakan saya baikbaik saja. Kita semua terluka, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Ketika berada di atas motor. Di bawah langit gowa yang selalu cari masalah. Saya berlatih untuk tersenyum. Kemudian tertawa sendiri. Pada bibir, bukan pada hati. 
Jalan raya adalah tempat favorit saya, sebelum kasur pada posisi kedua.
Keduanya bisa membuat saya menumpahkan air mata, atau sekedar membantu saya mengingat hari ketika bibir dan hati berbanding lurus.

"Kau terdengar terlalu sedih"
Terimakasih, bukan karena mengetahui. Tapi, untuk memperhatikan dan membuat saya terlihat sangat memprihatinkan.

Kemudian langit akhir-akhir ini terlihat kurang menarik, entah karena kau datang atau karena kau juga langsung pergi.

Ah, sudah terlalu panjang. Sebaiknya jangan habiskan waktumu membaca hal semacam ini. Bacalah Al-qur'an mu. Ia rindu.