Minggu, 29 Maret 2015

26 maret 2015

                Hidupku berjalan sempurna sebelum kau memasukinya. Seakan berjalan di trotoar baru yang mulus tapi berliku. Kau ubah semuanya menjadi seperti menaiki roller coaster mematikan. My life just turn Upside Down. Abu-abu, hitam, putih. Ahh.. warna itu dulu adalah diriku. Tapi, kau memberi hijau,merah, biru, bahkan mencampur berbagai warna hingga aku sendiri tak tahu warna apa yang akan tercipta. Kau buat hidupku seakan dipenuhi teka-teki. Tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Tak ada ide tentang apa yang akan kau lakukan selanjutnya.
                Mencintaimu seperti melihat bintang di angkasa. Bercahaya tapi tak pernah menyilaukan. Jauh tapi entah mengapa selalu terasa dekat. Bintang.. yang berhak ditatap oleh semua mata. Tapi, hanya boleh dimiliki oleh satu hati. Aku.
                Melihatmu seakan melihat takdir yang sedang berlalu.. pergi tapi datang lagi. Tak ada yang tahu isi hatimu. Tidak aku, tidak mereka, bahkan tidak dirimu sendirimu. Cinta itu memabukkan? Haha.. aku lebih memilih kata ketergantugan. Seperti zat adiktif yang lebih hebat dari narkoba.
Satu nama yang selalu ingin ku sebut dalam sebuah sapaan kepada pemiliknya. Bukan nama yang selalu kusebut dalam cerita penuh hayal kepada teman-temanku. H... dalam sebuah sapaan singkat yang membuatmu menengok lalu tersenyum padaku. Mendengarmu sekaaaaali saja menyebut namaku, dengan sebuah lambaian tangan mengiringinya.
Cinta itu buta. Tapi lucunya membuatku melihat hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya. Membuatku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Berusaha meluangkan waktu untuk melintasi rumahmu di setiap minggu pagi dengan modus jogging. Kau mengubahku menjadi morning person.
Jika waktu bisa kuputar kembali, aku takkan pernah sekalipun berpaling. Mencari sosok lain yang kukira bisa menghilangkanmu bahkan walau sedetik dari otakku. Entah berapa kali aku berpikir bisa melewati hari tanpa ada perasaan padamu. Berusaha mencari yang terbaik agar bisa melupakanmu. Tapi, yang terbaik bukanlah yang terbaik selama dia bukan dirimu. Selama kalian adalah sosok yang berbeda. 
Aku mencoba tidak menyakiti siapa-siapa selama rasa padamu masih membuncah tanpa bisa kukendalikan. Kututup semua pintu yang memungkinkan orang lain masuk ‘lagi’. Meninggalkan beberapa orang yang tak bisa kupungkiri sangat kucintai. Kubiarkan mereka terluka sekarang daripada berdarah dikemudian hari. Fikir aku tidak terluka? Lukaku sudah terlalu menganga, terlalu menganga hingga tidak terasa lagi.
Mereka yang kutinggal kembali mencari tempat baru. Bahagia dengan tempat baru yang lebih bisa membuat mereka menjadi prioritas. Aku? Menunggumu menyapa saja seperti menunggu METALICA merilis album religi. Aku memang kurang sabar.
Aku kurang sabar sehingga menunggumu nyaris selama 3 tahun. Aku kurang sabar hingga terkadang hanya bisa menghapus air mata saat kau tidak mengacuhkan. Aku kurang sabar setiap hari selama kelas 2 menunggumu lewat depan kelasku agar kita bisa berjalan di koridor dalam waktu yang sama meski tidak beriringan. Aku kurang sabar...
Aku juga tau kau sudah tau semuanya. Seorang teman sudah memberitahuku bahwa kau tau aku menyukaimu. Tapi? Menolak saja kau tidak. Apalagi mengiyakan. Sebut saja aku perempuan murahan yang selalu ingin mengenalmu. Selalu ingin bertahan padamu yang sama sekali tak mungkin memikirkanku walau sedetik. Jika aku menyukaimu dengan blak-blakan tolak aku dengan blak-blakan. Lebih baik seperti itu daripada aku harus membumbungkan hayal terlalu tinggi hingga melintasi galaksi.
Aku berubah karenamu. Mulai sering memandang diri di cermin dan bertanya. Apa yang salah? Apa yang kurang? Hal yang dulu hanya kulakukan hanya jika ingin memasang jilbab. Merias diri sebelum ke sekolah. Sibuk mempercantik diri di pagi hari dan mulai bermimpi kau akan tersenyum padaku pada malam hari. Kau ubah aku dan hariku.
Terkadang aku hanya tersenyum dan menunduk saat rasa sakit yang kurasa sudah mencapai ubun-ubun. Kau tak pernah ragu untuk mengacuhkanku. Aku tak pernah ragu untuk memperjuangkanmu.
Aku hanyalah seorang gadis yang berlindung di belakang kalimat ‘emansipasi wanita’ agar aku dengan leluasa bisa menyukaimu, dan memulai semuanya denganmu. Terdengar murahan memang tapi, cinta membuatku seperti ini. Aku yang selalu menolak siapa saja kini belutut di hadapanmu untuk mengemis rindu. Berikan aku sepotong saja. Berikan aku sisa yang mungkin pernah kau berikan ke orang lain. Aku tak apa. Ya.. aku mungkin tak apa. Anggap aku baik-baik saja.
Aku pernah mengenal banyak orang. Aku pernah meninggalkan banyak orang. Aku pernah ditinggalkan banyak orang. Jadi, jika kau ingin memperjelas TIDAK maka buat aku mendenganya sendiri. Agar aku bisa berhenti menyakiti diri sendiri. Agar aku bisa berhenti menyakiti mereka. Agar aku bisa berhenti mengganggu harimu.