Hidupku
berjalan sempurna sebelum kau memasukinya. Seakan berjalan di trotoar baru yang
mulus tapi berliku. Kau ubah semuanya menjadi seperti menaiki roller coaster
mematikan. My life just turn Upside Down. Abu-abu, hitam, putih. Ahh..
warna itu dulu adalah diriku. Tapi, kau memberi hijau,merah, biru, bahkan
mencampur berbagai warna hingga aku sendiri tak tahu warna apa yang akan
tercipta. Kau buat hidupku seakan dipenuhi teka-teki. Tak tahu apa yang akan
terjadi berikutnya. Tak ada ide tentang apa yang akan kau lakukan selanjutnya.
Mencintaimu
seperti melihat bintang di angkasa. Bercahaya tapi tak pernah menyilaukan. Jauh
tapi entah mengapa selalu terasa dekat. Bintang.. yang berhak ditatap oleh
semua mata. Tapi, hanya boleh dimiliki oleh satu hati. Aku.
Melihatmu
seakan melihat takdir yang sedang berlalu.. pergi tapi datang lagi. Tak ada
yang tahu isi hatimu. Tidak aku, tidak mereka, bahkan tidak dirimu sendirimu.
Cinta itu memabukkan? Haha.. aku lebih memilih kata ketergantugan. Seperti zat
adiktif yang lebih hebat dari narkoba.
Satu nama yang
selalu ingin ku sebut dalam sebuah sapaan kepada pemiliknya. Bukan nama yang
selalu kusebut dalam cerita penuh hayal kepada teman-temanku. H... dalam
sebuah sapaan singkat yang membuatmu menengok lalu tersenyum padaku. Mendengarmu
sekaaaaali saja menyebut namaku, dengan sebuah lambaian tangan mengiringinya.
Cinta itu
buta. Tapi lucunya membuatku melihat hal-hal yang belum pernah kulihat
sebelumnya. Membuatku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.
Berusaha meluangkan waktu untuk melintasi rumahmu di setiap minggu pagi dengan modus
jogging. Kau mengubahku menjadi morning person.
Jika waktu bisa
kuputar kembali, aku takkan pernah sekalipun berpaling. Mencari sosok lain yang
kukira bisa menghilangkanmu bahkan walau sedetik dari otakku. Entah berapa kali
aku berpikir bisa melewati hari tanpa ada perasaan padamu. Berusaha mencari
yang terbaik agar bisa melupakanmu. Tapi, yang terbaik bukanlah yang terbaik
selama dia bukan dirimu. Selama kalian adalah sosok yang berbeda.
Aku mencoba
tidak menyakiti siapa-siapa selama rasa padamu masih membuncah tanpa bisa
kukendalikan. Kututup semua pintu yang memungkinkan orang lain masuk ‘lagi’.
Meninggalkan beberapa orang yang tak bisa kupungkiri sangat kucintai. Kubiarkan
mereka terluka sekarang daripada berdarah dikemudian hari. Fikir aku tidak
terluka? Lukaku sudah terlalu menganga, terlalu menganga hingga tidak terasa
lagi.
Mereka yang
kutinggal kembali mencari tempat baru. Bahagia dengan tempat baru yang lebih
bisa membuat mereka menjadi prioritas. Aku? Menunggumu menyapa saja seperti
menunggu METALICA merilis album religi. Aku memang kurang sabar.
Aku kurang
sabar sehingga menunggumu nyaris selama 3 tahun. Aku kurang sabar hingga
terkadang hanya bisa menghapus air mata saat kau tidak mengacuhkan. Aku kurang
sabar setiap hari selama kelas 2 menunggumu lewat depan kelasku agar kita bisa
berjalan di koridor dalam waktu yang sama meski tidak beriringan. Aku kurang
sabar...
Aku juga tau
kau sudah tau semuanya. Seorang teman sudah memberitahuku bahwa kau tau aku
menyukaimu. Tapi? Menolak saja kau tidak. Apalagi mengiyakan. Sebut saja aku
perempuan murahan yang selalu ingin mengenalmu. Selalu ingin bertahan padamu
yang sama sekali tak mungkin memikirkanku walau sedetik. Jika aku menyukaimu
dengan blak-blakan tolak aku dengan blak-blakan. Lebih baik seperti itu
daripada aku harus membumbungkan hayal terlalu tinggi hingga melintasi galaksi.
Aku berubah
karenamu. Mulai sering memandang diri di cermin dan bertanya. Apa yang salah?
Apa yang kurang? Hal yang dulu hanya kulakukan hanya jika ingin memasang
jilbab. Merias diri sebelum ke sekolah. Sibuk mempercantik diri di pagi hari
dan mulai bermimpi kau akan tersenyum padaku pada malam hari. Kau ubah aku dan
hariku.
Terkadang aku
hanya tersenyum dan menunduk saat rasa sakit yang kurasa sudah mencapai
ubun-ubun. Kau tak pernah ragu untuk mengacuhkanku. Aku tak pernah ragu untuk
memperjuangkanmu.
Aku hanyalah
seorang gadis yang berlindung di belakang kalimat ‘emansipasi wanita’ agar aku
dengan leluasa bisa menyukaimu, dan memulai semuanya denganmu. Terdengar
murahan memang tapi, cinta membuatku seperti ini. Aku yang selalu menolak siapa
saja kini belutut di hadapanmu untuk mengemis rindu. Berikan aku sepotong saja.
Berikan aku sisa yang mungkin pernah kau berikan ke orang lain. Aku tak apa.
Ya.. aku mungkin tak apa. Anggap aku baik-baik saja.
Aku pernah
mengenal banyak orang. Aku pernah meninggalkan banyak orang. Aku pernah
ditinggalkan banyak orang. Jadi, jika kau ingin memperjelas TIDAK maka buat aku
mendenganya sendiri. Agar aku bisa berhenti menyakiti diri sendiri. Agar aku
bisa berhenti menyakiti mereka. Agar aku bisa berhenti mengganggu harimu.